Bagaimana mungkin alas kaki terbuat dari karet itu sedemikian mahalnya. Ih... sakit hatiku setiap kali lewat di depan counternya, nyaris 400ribu harga yang harus dikeluarkan untuk bisa menginjaknya.
Tapi siapalah saya bisa protes-protes soal produk itu ditambah pula anak-anak saya (ehmmm terutama gadis kecil saya) adalah fans berat dari produk itu. Salah satu alasan, tentu karena warna-warni yang sangat eyecatching, plus nyaris semua teman-teman memilikinya...sempurnalah sudah alasan penting untuk memiliki sepatu itu.
Sayang Jogi, Lidya dan Jethro tidak seberuntung teman-teman mereka yang punya orangtua yang sangat baik hati dan berbudget cukup untuk membelikan sepatu itu buat mereka. Saya dan Ronald selalu mengajarkan mereka hidup sesuai dengan kemampuan kami. Itulah sebabnya sampai hari ini kami tak pernah punya PS, Gameboy dan sejenisnya, selain karena mahal kami pikir tak ada manfaat yang besar buat anak-anak kami. Ok you can call us pelit, we don't care. Kami punya prinsip sendiri untuk urusan begini.
Lidya sudah sangat lama memimpikan punya sepatu ini. Saya bilang padanya, "maaf nak mama belum sanggup membelikan, karena harganya sangat mahal". Saya bilang kalau dia ingin memilikinya cobalah menabung. Kemudian saya buat janji yang lain padanya, kalau nilai sekolah atau nilai pianonya bagus, saya berjanji mati-matian akan membelikannya. Ah.. saya jadi ingat pada papi saya, dia selalu melakukan hal yang sama pada saya dulu.
Sampai semua itu bisa terpenuhi saya hanya membelikan mereka sepatu karet tiruan yang saya beli dengan harga 25-30ribuan saja. Yang paling menyukakan hati saya, tak sedikitpun anak-anak becut (baca: cemberut) karena memakai sepatu tiruan itu.
Bahkan saya ingat sekali waktu ketika Lidya pergi bersama teman-temannya yang hampir semua pakai sepatu asli berbagai type, Lidya bilang "aku juga punya tapi yang palsu"... ih sedih juga loh dengarnya, tapi mo bilang apa janji is janji, commitment is commitment.
Akhirnya setelah sekian lama saya berjanji, saya menepati janji saya karena nilai piano Lidya bagus, walau tidak masuk sepuluh besar tapi semua nilainya diatas 80 bahkan diatas 85. Lidya senang banget, saya perhatikan setiap kali dia punya kesempatan mengakses computer saat weekend, dia sempatkan singgah di websitenya dan memandang-mandang type sepatu buaya favoritenya itu.
Bulan lalu saya belikan dia Malindi bewarna turqoise pujaannya, sambil saya bilang "ntar kita kongsi ya kak, gantian". Gadis saya setuju, tapi FYI sampe hari ini saya belum sempat menikmati sepatu pujaannya itu hehehe, soalnya kemanapun saat kami pergi dia selalu memakainya. Saya sempat mencoba, memang nyaman (dibanding KW nya yang sudah kami miliki sebelumnya). Semua akhirnya aman tentram dan damai, dia mendapatkan apa yang diidam-idamkannya dan saya melunasi hutang saya.
Sampai kemudian minggu lalu saya mendapatkan kiriman dibawah ini
I was like "WHAT????" discount???? 70%???? kenapa ga kemaren-kemaren seh????Tapi lagi-lagi sapa sih saya ? Saya penasaran dong, dan saya dan niat sama sepupu saya Roi untuk mendatangi sale tersebut. Tapi ada perubahan karena ada berita duka, mami dan Roi harus berangkat ke Malang mengurus kematian sepupu saya Hemat Nababan. Rest in Peace mu dear cousin hiks... kisah hidupmu sangat sedih... andai saya tau... andai saya tau!
Saya sudah tak terlalu bersemangat lagi karena Roi tak ada menemani saya untuk ke sale itu. Saya sudah berencana, akan menyusul dari kantor, dan biar Roi datang duluan nanti kami ketemu disana. Tapi ketika kemudian sampai di kantor, 4ngel teman kantor saya tanya "jadi mau pergi ga mbak?", saya jadi semangat lagi karena ada teman hehehe.
Akhirnya kami berangkat juga, wah... perjuangannya tidak terceritakan deh tapi kalo dari cerita teman-teman lain, beruntung banget kami datang hari pertama walaupun ramai tapi tidak sesadis hari-hari selanjutnya... lucky me!
Ya dendam saya sudah terbalaskan, memiliki sepatu yang harganya ga masuk akan akhirnya jadi masuk akal karena discountnya yang besar-besaran. Ya... tx to Crocs give back, akhirnya saya tak perlu meminjam sepatunya Lidya lagi :), dan kita bisa gantian sekarang. Buat saya yang hobi menyambangi pameran, sale dll, sepatu ini cukup mendukung hehehe, mendukung saya untuk tidak cepat lelah dan betah kelayapan seharian... what an excuse!
Berhasil lah saya memiliki si Alice dan si Prima tersayang.
Sekian cerita yang ga penting-penting amat tapi bikin saya puas... sampai ketika malam terpaksa pijet sumo beraksi di betis dan paha saya. Sale ... oh... Sale
Quality will be prized as a precious possession
my cozy room, i'm typing while my hubby watching






